Adsense Indonesia
Showing posts with label Tsaqofah. Show all posts
Showing posts with label Tsaqofah. Show all posts

Monday, January 4, 2010

Lihat Masjid Kita..., Betapa Dahsyat Kekuatannya….!

Zul Fahmi, Desember 2008


Ketika Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul dan penutup dari semua nabi dan rasul. Maka saat itu Madinah ataupun Mekah merupakan daerah yang sangat terpencil, jauh dari keramaian dan hingar bingarnya kota, serta dengan kondisi masyarakat yang sangat jauh terbelakang kehidupanya. Sebagian besar penduduknya hidup mengembara untuk berdagang ke luar kota, dan sebagian yang lain
read more...

Tuesday, December 15, 2009

Hutang Barat Terhadap Islam (The West's Debt to Islam)

Oleh : Adian Husaini

Itulah tajuk satu bab dari sebuah buku berjudul What Islam Did for Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006), karya Tim Wallace-Murphy. Di tengah gencarnya berbagai serangan terhadap Islam melalui berbagi media di Barat saat ini, buku seperti ini sangat patut dibaca. Selain banyak menyajikan data sejarah hubungan Islam-Barat di masa lalu, buku ini memberikan arus lain dalam menilai Islam dari kacamata Barat. Berbeda dengan manusia-manusia Barat yang fobia dan antipati terhadap Islam—seperti sutradara film “Fitna”, Geert Wilders—penulis buku ini memberikan gambaran yang lumayan indah tentang sejarah Islam. Bahkan, dia tidak segan-segan mengajak Barat untuk mengakui besarnya utang mereka terhadap Islam. “Utang Barat terhadap Islam,” kata, Tim Wallace-Murphy, “adalah hal yang tak ternilai harganya dan tidak akan pernah dapat terbayarkan sampai kapan pun. Katanya, “We in the West owe a debt to the muslim world that can be never fully repaid.”
Pengakuan Wallace-Murphy sebagai bagian dari komunitas Barat semacam itu sangatlah penting, baik bagi Barat maupun Islam. Di mana letak utang budi Barat terhadap Islam? Buku ini banyak memaparkan data tentang bagaimana transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Barat pada zaman yang dikenal di Barat sebagai Zaman Pertengahan (The Middle Ages). Sejak beberapa bulan lalu, setiap hari, harian Republika, juga memuat rubrik khusus tentang khazanah peradaban Islam di masa lalu, yang memberi pengaruh besar terhadap para ilmuwan Barat.
Di zaman pertengahan itulah, tulis Wallace-Murphy, Andalusia yang dipimpin kaum muslimin menjadi pusat kebudayan terbesar, bukan hanya di daratan Eropa tetapi juga di seluruh kawasan Laut Tengah. Pada zaman itu, situasi kehidupan dunia Islam dan dunia Barat sangat kontras. Bagi mayoritas masyarat di dunia kristen Eropa, zaman itu, kehidupan adalah singkat, brutar, dan barbar, dibandingkan dengan kehidupan yang canggih, terpelajar, dan pemerintahan yang toleran di Spanyol-Islam.
Saat itu, Barat banyak sekali belajar pada dunia Islam. Para tokoh agama dan ilmuwan mereka berlomba-lomba memepelajari dan menerjemahkan karya-karya kaum muslim dan Yahudi yang hidup nyaman dalam perlindungan masyarakat muslim. Barat dapat menguasai ilmu pengetahuan modern seperti sekarang ini, karena mereka berhasil mentransfer dan mengembangkan sains dari para ilmuwan muslim.
Tenggelam oleh Kebencian
Faktanya, pandangan yang positif terhadap Islam—seperti yang disuarakan oleh Tim Wallace-Murphy—tenggelam oleh permainan opini dan politik kalangan Barat yang memiliki pandangan yang salah atau yang menyimpan dendam terhadap Islam. Dalam bukunya, Muhammad, a Biography of the Prophet (1996), Karen Amstrong menggambarkan keresahannya, bahwa di Eropa pada tahun-tahun belakangan ini, kebencian lama terhadap Islam mulai terus dibangkitkan. “Orang-orang Eropa mudah menyerang Islam, walaupun mereka hanya tahu tentang Islam,” tulis Amstrong, mantan biarawati yang banyak menulis buku tentang Islam, Yahudi, dan Kristen.
Tiga Skenario
Wacana untuk membangkitkan kewaspadaan khusus orang-orang Barat terhadap Islam tampak jelas dalam bukunya The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror (2004). Sebagai bagian dari skenario kelompok neo-konservatif , yang antara lain terdiri atas kelompok Kristen fundamentalis dan kelompok Yahudi sayap kanan. Upaya membangkitkan kebencian lama Barat terhadap Islam bisa memiliki sejumlah tujuan.
1. Sebagai bagian dari upaya Eropa (juga masyarakat Barat) kembali sebagai satu kekuatan Kristen sebagaimana terjadi dalam Perang Salib yang dimulai tahun 1095.
2. Upaya mengalihkan dukungan masyarakat Eropa terhadap perjuangan Palestina.
3. Kepentingan dukungan politik dalam negeri negara tertentu.
Hingga kini, di kalangan Kristen fundamentalis, istilah “Crusade” masih sering digunakan. Peristiwa Perang Salib menunjukkan bahwa Eropa belum pernah bersatu, kecuali saat menghadapi Islam. Pada tahun 1095 Paus Urbanus II berhasil menggalang kekuatan Kristen, melupakan perbedaan antara mereka, dan bersatu padu melawan kekuatan Islam. Dalam pidatonya, Paus menyatakan bahwa bangsa Turki (muslim) adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, Paus menyerukan: “Membunuh monster tak ber-Tuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci; adalah suatu kewajiban Kristiani untuk memusnahkan bangsa jahat itu dari wilayah kita.” (Killing these godless monster was a holy act: it was a Christian duty to exterminate this vile race from our lands). Karen Amstrong menggambarkan pengaruh Perang Salib terhadap masyarat Barat dalam bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on to Today’s Wordl, (London: McMilan London Limite, 1991).
Skenario pengalihan dukungan masyarakat Barat terhadap Palestina juga sangat masuk akal, mengingat semakin menguatnya simpati dunia terhadap Palestina. Citra Israel dalam perang di Lebanon sangat babak belur. Israel dan Amerika gagal menempatkan Hizbullah dan Hamas sebagai musuh dunia, khususnya dunia Islam. Dengan membangkitkan sentimen lama tentang Islam di kalangan masyarakat Eropa, maka upaya pembentukan negara Palestina meredeka bisa digagalkan, setidaknya terus diundur.
Jatuhnya Konstantinapel merupakan pukulan berat bagi Eropa waktu itu. Meskipun Gereja Timur sudah mengalami konflik dengan Gereja Barat, tetapi untuk menghadapi Islam, Paus Nicholas V di Roma, mengirimkan tiga kapal perang untuk membantu melawan pasukan Sultan Muhammad al-Fatih. Hanya saja, di kalangan pemuka agama Romawi Timur sendiri muncul perpecahan. Mereka ada yang lebih suka bergabung dengan Turki Utsmani ketimbang bersatu dengan Paus. “I would prefer seeing the Trukish turban in Byzantium rather than the Crdinal’s hat,” kata Granduke Notaras, seorang tokoh Kristen Byzantine.
Karena begitu mudahnya sentimen anti-Islam dibangkitkan–terutama melalui media massa di Barat yang banyak dikuasai kelompok tertentu–maka para politisi di Barat juga tidak jarang menggunakan isu ‘sentimen anti-Islam’ untuk meraih dukungan politik. Bukan hal itu yang sulit dibaca, bahwa dukungan rakyat AS terhadap George W. Bush sangatlah kecil. Tetapi, setelah peristiwa 11 september itu, dukungan terhadap Bush melonjak tajam.
Bukti Kebenaran Al-Qur’an!
Munculnya kasus film “Fitna” garapan Geert Wilders semakin membuka mata kita akan latennya kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan dari kalangan Yahudi-Nasrani terhadap Islam. Film ini muncul tidak lama sesudah hebohnya pemuatan sejumlah kartun yang melecehkan Nabi Muhammad saw. Kaum muslim juga masih mengingat dengan baik ucapan Paus Benediktus XVI yang juga melecehkan Nabi Muhammad saw. Bagi kaum musimin, peristiwa ini tentu saja sangat menyakitkan. Kaum muslim tidaklah sama dengan kaum Kristen Leberal di Barat yang dengan mudahnya membiarkan saja pelecehan-pelecehan terhadap Tuhan mereka. Atas nama kebebasan (liberalisme), mereka membiarkan saja Jesus dilecehkan, melalui berbagai film.
The Times, edisi 28 Juli 1967, pernah mengutip ucapan Canon Hugh Montefiore, dalam konferensi tokoh-tokoh Gereja di Oxford tahun 1967, yang mempersolkan mengapa Jesus tidak menikah. Ada tiga kemungkinan untuk itu. Mungkin Jesus tidak mampu menikah, mungkin tidak ada perempuan, atau mungkin dia seorang homoseksual.
Semua ‘kekurangajaran’ kepada Jesus itu biasa berlaku bagi mereka. Tetapi, Islam tidak sama dengan mereka. Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang paling banyak disebut namanya di dunia ini. Selama 24 jama penuh, umat Islam di seluruh dunia tidak pernah berhenti menyebut namanya. Sepanjang zaman, kaum muslimin siap-siap mengorbankan nyawanya demi kehormatan Nabi yang mulia. Ibnu Taimiyah rhm. menulis satu kitab khusus tentang pelecehan terhadap Nabi, yaitu Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimir Rasul. (Pedang Yang Terhunus untuk Penghujat Sang Rasul).
Peristiwa pelecehan Nabi Muhamamd saw. dan kepada Islam yang datang bertubi-tubi memang begitu menyakitkan hati kita sebagai kaum muslim. Tetapi, di samping itu, kita mengambil hikmah dari kasus ini. Kasus ini membuktikan bahwa Barat tidak tahu berterima kasih terhadap Islam. Kasus ini sekaligus juga membuktikan kebenara Al-Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118)
read more...

Menghujat Islam - Meraih Popularitas

Ust. Ahmad Salimin Dani

Thursday, 17 April 2008
Kedengkian orang Yahudi dan Kristen
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).' Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al-Baqarah: 120).
"Mereka tidak pernah berhenti-henti memerangi kamu sampai mereka dapat mengembalikan kamu murtad dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."
(Al-Baqarah: 217).

Kebencian Orang Kafir terhadap Mukmin
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan mereka berkata: 'Kami beriman;' dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari mereka lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): 'Matilah kamu karena kemarahanmu itu.' Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati." (Ali Imran: 118-119).
"Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas-gegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zhalim." (At-Taubah: 47)

Larangan Mengikuti Orang Kafir
"Hai orang-orang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman." (Ali Imran: 100).

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik penolong." (Ali Imran: 149-150).
Orang Kafir pada Hakikatnya Jahat
"Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik, (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." (Al-Bayyinah: 6).

Penghujat Negeri Kincir Angin

Berapa banyak orang seperti Geert Wilders yang diperluka untuk mengubah Belanda menjadi arena perang saudara "warga asli" lawan "pendatang"? Tak banyak!
Yang terang, Geert Wilders, 44 tahun, tidak sedang bicara kepada 1,3 warga muslim keturunan imigran di negerinya, manakala film "Fitna" masuk internet dan menuai protes hebat, dua pekan lalu. Terus terang dari kebanyakan para pendatang yang berkulit gelap, berambut keriting, dan berasal dari Afrika Utara, yang bergulat dengan masalah identitas dan keterpurukan ekonomi itu, ia tidak bisa berharap banyak. Wilder juga tidak tertarik menawarkan solusi yang bersahabat untuk pendatang terpinggirkan itu. Tapi dari segelintir imigran berpandangan radikal, Wilders memperoleh banyak amunisi yang kemudian disulapnya menjadi senjata politik ampuh.
Tewasnya produser film Theo van Gogh empat tahun silam di sebuah jalan di Amsterdam mengantar Wilders masuk ke dunia parlemen Belanda yang sangat berkuasa. Pembunuhan yang menggemparkan negeri Kincir Angin itu dilakukan seorang pemuda imigran muslim. Korban dihabisi dengan brutal, dan mujahid tidak menyesali perbuatannya. Masyarakat Belanda marah dan hangus hatinya melihat kejadian itu sekonyong-konyong menemukan orang muda yang tepat untuk menghadapi semua ini. Ia Geert Wilders, politikus muda bermulut tajam yang menyerukan penghentian arus imigran ke Belanda selama lima tahun sejak 2004, juga pengetatan pengawasan kontong-kantong minoritas beragama Islam.
Wilders yang beraliran ultranasionalis itu pintar menyuburkan sterotip, menanamkan sentimen anti-imigran dan anti-Islam. Film "Fitna" bikinannya sarat dengan rekaman pesawat yang menghantam menara kembar WTC di New York pada 11 September 2001, rekaman korban pengeboman di Madrid dan London, untuk menjelaskan surat Al-Anfal ayat 60. Dengan cara mempolitisasi maknanya. Wilders mengatakan, ayat ini meneror lawan Islam. Padahal, itu satu ayat Al-Qur'an yang berisi perintah untuk menggetarkan hati musuh-musuh Allah yang mengancam dengan melibatkan kesiapan dan persenjataan perang yang lengkap untuk mempertahankan eksistensi umat (deterrent effect).
"Fitna" yang berdurasi 17 menit dan diisi lima kali pembacaan ayat Al-Qur'an itu kemudian ditutup dengan kesimpulan yang merupakan seruan: Stop Islamisasi! Bela kebebasan kita!

Tentu saja Wilders tidak bicara kepada minoritas muslim, tapi kepada mayoritas kulit putih Belanda yang merasa terancam oleh kaum pendatang. Ia menggunakan kata "kita" untuk menghimpun warga asli Belanda yang bekulit putih dan tidak beragama Islam, untuk menghadapi musuh bersama: kaum imigran muslin. Di mata Wilders, selalu ada Belanda yang terpecah dan selalu ada konflik yang tak berujung: "kita" lawan "mereka". Ia gemar mengulang penjelasan yang sederhana tentang sejarah Eropa kontemporer: "Pada tahun 1945 kita menghabisi fasisme Nazi, pada 1989 kita mengalahkan komunisme, dan sekarang kita menghadapi ideologi Islam."

Wilder, Ketua Fraksi Partai Kebebasan (PVV) di parlemen, banyak diuntungkan oleh perkembangan ini. Ia piawai mengubah rasa takut menjadi kebencian serta merrduksi demografi Belanda menjadi "kita" dan "mereka". Soal kampanye Wilders akan laku atau malah akan menyerang balik kredibilitasnya, itu tergantung logika dan akal sehat warga Belanda. Itu juga akan ditentukan oleh daya tahan masyarakat Belanda, termasuk masyarakat muslimnya sebagai satu satu kesatuan, dalam menghadapi gempuran retorika Geert Wilders yang memecah belah.

Orang-orang Wilders akan terus hadir. Tapi, dari pengalaman kita selama ini, ada satu resep yang mungkin bisa ditawarkan: resistensi sebagai bangsa dan senstivitas terhadap aspirasi religius orang lain. Dan yang pasti, umat Islam saat ini merupakan komoditi terlaris untuk dapat diperdagangkan bagi orang yang ingin melejit namanya. Karena, masyarakat dunia yang dikuasai Zionis dan Palangis saat ini sedang ketakutan menghadapi serangan balik umat Islam atas dosa-dosa mereka yang telah membunuh banyak jiwa yang tak bersalah, seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, Libanon, dan Balkan.

Fitna dari Belanda

Kita hidup di sebuah zaman ketika benci bisa jadi advertensi. Jika kita teriakkan rasa muak, geram, dan tak sabar kepada sekelompok manusia dengan teriakan yang cukup keras, kita akan menarik perhatian orang ramai. Bahkan akan dapat dukungan. Itulah yang sedang dilakukan oleh Wilders. Dia tahu betul hal itu. Dalam umurnya yang ke-44 tahun, politikus Belanda ini ialah sosok yang cocok bagi zaman celaka seperti sekarang. Tiap kali ia mencaci maki orang imigran muslim yang hidup di Negeri Belanda, ia dengan segera tampak mumbul seperti balon jingga di langit Den Haag.
Dalam sebuah wawancara dengan harian De Pers pertengahan Februari 2007, inilah yang dikatakannya: "Jika orang muslim ingin hidup di Negeri Belanda, mereka harus menyobek dan membuang setengah dari isi Al-Qur'an." Katanya pula: "Jika Muhammad hidup di sini sekarang, saya akan usul agar ia diolesi ter dan ditempeli bulu ayam sebagai ekstrimis, lalu diusir ...."

Syahdan, 15 Desember 2007, radio NOS pun mengangkat Wilders sebagai "politician of the year". Para wartawan surat kabar yang meliput parlemen memuji kemampuannya mendominasi diskusi politik dan memperoleh publisitas, berkat ucapan-ucapan ringkasnya yang panas, dan tentu Wilders jadi tokoh publik yang mendapat tepuk tangan yang meriah. Karena, sikap kebencian kepada umat Islam menjadikan tempat yang strategis dalam percaturan kehidupan bangsa barat saat ini.

Nasib Penghujat Islam

Pada awal November 2004, sutradara film Theo van Gogh digorok dan ditikam di sebuah jalan di Amsterdam oleh seorang pemuda Islam, Muhammad Bouyeri, yang menganggap korbannya layak dibinasakan. Van Gogh, seperti Wilders, adalah penyebar kebencian yang dibalas dengan kebencian. Tak ayal, dukungan melimpah ke partai yang dipimpin Wilders. Dan ini terbukti bahwa warga Belanda yang didominasi Yahudi benar-benar sedang kebingungan menghadapi pertumbuhan penduduk umat Islam. Sebuah jajak pendapat mengindikasikan bahwa partai itu, PVV, bisa memperoleh 29 dari 150 kursi di parlemen seandainya pemilihan umum berlangsung setelah pembunuhan yang mengerikan itu.
Kini bisa diperkirakan film "Fitna" yang kontroversial ini akan membuat Wilders lebih berkibar-kibar, terutama jika benci yang ditiup-tiupkannya disambut, jika orang-orang Islam meledak, mengancam, atau berusaha membunuhnya. Wilders bahkan memperoleh sesuatu yang lebih, bila kekerasan yang terjadi dalam menyikapi film "Fitna". Karena, film itu dibuat oleh Wilders untuk menunjukkan betapa brutalnya ajaran Islam. Dari itu, umat Islam harus bijak dan mengutamakan strategis yang jitu untuk memukul balik hujatan ini, agar Wilders dan yang lainnya tidak numpang populer dari kasus penghujatan yang mereka buat.

Saya menonton film ini di internet. Isinya repititif. Apa maunya sudah dapat diperkirakan. Dimulai dengan karikatur terkenal di Denmark, karya Kurt Westergaard penghujat Nabi saw. itu, gambar seorang berpipi tambun dengan bom di kepala sebagai sorban hitam, yang dikesankan sebagai "potret" Nabi Muhamad saw. Film ini adalah kombinasi antara petikan teks Qur'an dalam terjemahan Inggris, suara qari yang fasih membacakan ayat yang dimaksud, dan klip video tentang kekerasan dan kata-kata benci yang berkobar-kobar.

Ayat 60 dari surat Al-Anfal ditampilkan pada awal "Fitna". Yaitu, perintah Allah agar umat Islam menghimpun kekuatan dan mendatangkan rasa takut ke hati musuh diikuti oleh potongan film dokumentar ketika pesawat terbang itu ditabrakkan ke World Trade Center New York, 11 September 2001. Kemudian, tampak pengeboman di kereta api Madrid. Setelah itu, seorang imam tak disebutkan namanya bangkit dari asap, menyatakan: "Allah berbahagia bila ada orang yang bukan muslim terbunuh."
Pendek kata, dalam "Fitna", Al-Qur'an adalah kitab suci yang mengajarkan kebencian yang memekik-mekik dan tidak biadab yang berdarah. Wilders sebenarnya hanya mengulang pendapatnya. Pada 8 Agustus 2007, ia menulis untuk harian De Volkskrant: Qur'an, baginya adalah "buku fasis" yang harus dilarang beredar di Negeri Belanda, seperti halnya Mein Kampf Hitler. Buku itu merangsang kebencian dan pembunuhan.
Salahkah Wilder? Tentu. Penulis resensi dalam Het Parool konon menyatakan, setelah membandingkan film itu dengan Al-Qur'an secara keseluruhan, "Saya lebih suka kitab sucinya." Sang penulis resensi, seperti kita, dengan segera tahu, Wilder hanya memilih ayat-ayat Qur'an yagn cocok untuk proyek kebenciannya. Semua orang tahu, Al-Qur'an hanya deretan pendek petilan itu. Dan tentu saja tiap petilan punya konteks sejarahnya sendiri.

Tapi Wilders tak hanya sesat di situ. Ia juga salah di tempat yang lebih dasar, ia berasumsi bahwa ayat-ayat itulah yang memproduksi benci, amarah, dan darah. Ia tak melihat kemungkinan bahwa Al-Qaedah yang ganas, Taliban yang geram, imam-imam yang akan membakar emosional disebabkan karena prilaku orang lain yang menonjolkan kezhaliman. Hal itu dapat dilihat seperti perilaku Salman Rusdi, Kurt Westergaard, Wilders, Theo van Gogh dan lainnya.

Penghujat Negeri Prancis dan Inggris

Pada kurun sekarang, pandangan seperti itu apa boleh buat tidak mudah berakhir. Ada sejarawan yang bernama Prancis Fukuyama, penuls The End of History, yang dalam sebuah seminar di Brooking Instute meyakini ancaman serius dari elemen masyarakat Eropa yang radikal. Ada seorang Bernard Lewis, sejarawan Inggris di Universitas Princeton, Amerika, yang membayangkan Benua Eropa menjadi bagian dari dunia Arab pada penghujung abad ini. Ia melihat ini sebagai konsekuensi pertumbuhan penduduk yang tinggi di kalangan imigran keturunan Arab Eropa. Dan terkahir, berita statistik dari Vatikan yang dimuat dalam surat kabar Osservatore Romano, yang menyebut bahwa jumlah pemeluk muslim telah melampui pemeluk Katolik. Jumlah orang Islam mencapai 19,2 persen dari penduduk dunia, sedangkan orang Katolik meliputi 17,4 persen, meskipun penganut Kristen secara keseluruhan masih mayoritas dengan 33 persen.
Don Quitxote Penghina Tuhan
Atas nama kebebasan berekspresi, para intelektual, seniman, dan politikus tak kapok membakar amarah umat Islam. Geert Wilders memancing kemarahan umat Islam. Sebelumnya, ada sederet nama yang berhasil mengguncang dunia dengan kartun, film, atau fiksi ciptaan mereka yang menghujat Islam.

Bagi umat Islam, tindakan Wilders dan kawan-kawannya ini merupakan penistaan yang harus dibalas. Tapi, bagi kelompok moderat, mereka dianggap tidak lebih oportunis yang mempromosikan ketakutan dan kebencian. "Dia rada gila", karena memberikan kesan pada sejumlah orang bahwa ia akan memerangi Islam. Ia semacam Don Quixote, yang berjuang melawan sesuatu dan menampilkan tujuan yang tak pernah terjadi, kata Ketua Dewan Nasional Maroko Mohammaed Rabbae.

Kurt Werstergaard telah menjadi sasaran kemarahan karena 12 kartun Nabi Muhammad saw. buatannya dipajang di koran Denmark, Jyllands-Posten, pada 30 September 2005. Kita, umat Islam, dilarang melukis Nabi Muhammad saw., dan kemarahan kita makin berang, karena Nabi Muhamamd yang kita kagumi digambarkan sebagai sosok teroris, yaitu dengan gambar memakai sorban berbentuk bom yang siap meledak dan berhiaskan dua kalimat syahadat dalam aksara Arab.

Gelombang protes di negara berpenduduk meyoritas muslim tak terbendung. Korban pun berjatuhan. Di Somalia seorang remaja 14 tahun ditembak mati ketika massa menyerang polisi yang menghalang-menghalangi mereka berdemo. Di Afghanistan, lima orang tewas. Koran Jyllands-Posten meminta maaf, tapi ngotot menyatakan tindakan mereka tidak melanggar hukum Denmark. Begitulah sikap negara kafir yang hanya mempermainkan umat Islam.

Ketika kemarahan mulai reda, pada 1 Februari 2006, koran Prancis, France Soir, serta Die Welt di Jerman, La Stampa di Italia, dan El Periodico di Spanyol kembali memuat kartun tadi. Di bawah tulisan, "Ya, kami berhak menggambar Tuhan," France Soir memasang citraan Tuhan dalam agama Budha, Yahudi, Islam, dan Kristen melayang di awan. Setelah itu, masyarakat muslim di Prancis meradang terus- menerus diteror kaum kuffar.

Apakah penghujat kapok? Tidak. Koran Denmark, Jyllands-Posten, Politiken, dan Berlingske Tidende, mencetak kembali kartun sorban berhias bom karya Westergaard itu pada 13 Februari lalu. Redaktur koran itu mengatkan tak seorang pun harus merasa terancam jiwanya karena menggambar. "Kami melakukan ini untuk mendukung kebebasan berpendapat." Lalu apakah kita masih menaruh harapan kepada orang kafir yang tidak mau menghormati keyakinan kita?

Sebelum umat Islam disulut emosionalnya dengan karikatur Westergaard, novelis warga negara Inggris kelahiran India, Salman Rushdie, 61 tahun, menerbitkan novel berjudul "Satanic Verses" pada tahun 1988. Dalam novel itu, dikisahkan Nabi Muhammad lewat tokoh Mahound menambahkan beberapa ayat Al-Qur'an. Tapi Mahound kemudian mencabutnya karena ayat itu hasil godaan syaitan. Ayat itulah kemudian disebut ayat-ayat setan. Narator dalam buku ini menyatan kepada para pembaca bahwa kekacauan ayat itu berasal dari mulut Malaikat Jibril.

Jagat Islam pun gempar. Radio Teheran menyiarkan fatwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ruhullah Khomeini, pada 14 Februari 1989. Isinya memerintahkan umat Islam membunuh Rushdie. Menurut Khomeini, buku Rushdie menghina Tuhan dan Islam.
Sejak itu, Rushdie bersembunyi. Pada Maret 1989, Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Korban tewas pun berjatuhan dalam kerusuhan aksi protes di negara Muslim. Toh, Ratu Elizabeth II pada Juni 2007 memberi Rushdie gelar bangsawan kesatria. Rushdie pun bisa mencantumkan kata "Sir" di depan namanya.
Nasib Theo van Gogh lebih tragis. Kerabat pelukis abad ke-19, Vincent van Gogh, membuat film berdasarkan buku karya bekas anggota parlemen Belanda asal Somalia, Ayaan Hirsi Ali. Film berjudul "Submission" itu bercerita tentang kekerasan seksual yang dialami perempuan dalam masyarakat muslim dengan menunjukkan adegan menorehkan ayat Al-Qur'an pada tubuh perempuan setengah telanjang.

Vonis pun dijatuhkan secara sepihak kepada Muhammad Bouyeri, 26 tahun, imigran asal Maroko. Ia mencegat Theo Saat bersepeda di satu jalan sepi di Amsterdam dan membunuhnya. "Hukum mewajibkan saya memotong kepala siapa saja yang menghina Allah dan Nabi," ujar Bouyeri dalam sidang pengadilan.

Belum surut badai protes pada Wilders, Gantian Ehsan Jami, 22 tahun menyulut api. Anggota parlemen Belanda keturunan Iran ini sedang membuat film animasi bercorak komedi berjudul "Kehidupan Muhammad". Film ini terfokus pada malam pernikahan Nabi dengan seorang perempuan berusia sembilan tahun. Sebuah upaya mencari popularitas dengan jalan pintas.

Orang seperti Wilders akan terus hadir. Tapi, dari pengalaman kita selama ini, ada satu resep yang mungkin bisa ditawarkan: resistensi sebagai bangsa dan sensitivitas terhadap aspirasi religius orang lain. Dan yang pasti, umat Islam saat ini sedang menjadi komoditi terlaris untuk dapat diperdagangkan bagi orang yang ingin melejit namanya. Karena, masyarakat dunia Zionis dan palangis saat ini sedang ketakutan menghadapi serangan balik umat Islam atas dosa-dosa mereka yang telah membunuh banyak jiwa yang tak bersalah, seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, Libanon, dan Balkan.

Oleh: Ust. Ahmad Salimin Dani (Disampaikan pada acara Semalam Bersama Dewan Dakwah Islamiyah Bekasi, di masjid Nurul Islam Islamic Center Bekasi, Sabtu (12/04).

read more...

Monday, December 14, 2009

Pentingnya Menyatukan Barisan

OLEH : Syaikh Muhammad bin Abdullah Ad-Duwaisy

Semua orang yang berakal pasti sepakat bahwa persatuan itu sangat penting dan dibutuhkan oleh umat yang menginginkan kemenengan. Sungguh, syari’at telah memperhatikan hal itu dan bagaimana menjaganya.
Pada akhir-akhir ini, berbagai perselisihan silih berganti. Perselisihan memang sudah kepastian yang akan terjadi pada umat. Tapi, perselisihan yang terjadi sekarang ini sudah melampaui batas sehingga perlu adanya wasiat dan pencerahan terhadap makna persatuan.
Di antara dalil-dalil yang menjelaskan akan pentingnya menyatukan barisan adalah sebagai berikut.
1. Nash-Nash dari Al-Qur’an
Sungguh Al-Qur’an telah menjaga persatuan umat. Hal ini dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an, di antaranya Allah Azzawajalla berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali-Imran: 102-103).

“Jikalau Tuhan-mu menghendaki, tentu dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhan-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Hud: 118-119).
Maksud dari firman Allah Ta’ala “Untuk Itulah Allah menciptakan mereka” adalah sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu Jarir, orang yang mendapatkan rahmat Allah tidak akan berselisih pada perselisihan yang membahayakan (tafsir Ibnu Jarir, 12/34).
Ibnu Abbas ra. menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan mereka menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang dirahmati Allah (tidak akan berselisih), dan kelompok yang tidak dirahmati Allah (akan berselisih). Sehingga, ada di antara mereka yang celaka dan bahagia. (Tafsir Ibnu Jarir, 12/34).
2. Menyatukan Barisan adalah Salah Satu Tujuan Allah Mengutus Para Nabi-Nya
Para nabi a.a. adalah utusan Allah yang menyerukan untuk menyatukan barisan dengan satu kalimat. Imam Baghawi mengatakan, “Allah telah mengutus para nabi untuk menegakkan agama, menyatukan umat, dan meninggalkan perpecahan serta perselisihan.” (Ma’alim At-Tanzil, Ibnu Jarir Ath-Thabari, hal. 4/122).
Sebelumnya, para nabi pun pernah berselisih pendapat, di antaranya Musa a.s. menyelisihi Harun a.s. Dalam firman Allah dijelaskan: “Berkata Musa: ‘Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka Telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti Aku? Maka apakah kamu Telah (sengaja) mendurhakai perintahku?’ Harun menjawab: ‘Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): ‘Kamu Telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’.”
Begitu juga perselisihan yang terjadi antara Hidlir a.s. dan Musa a.s., dan antara Sulaiman a.s. dan Daud a.s. Allah berfirman: “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah kami berikan hikmah dan ilmu dan telah kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud, dan kamilah yang melakukannya.” (Al-Anbiya’: 78-79).
Bahkan, malaikat pembawa rahmat dan malaikat penyiksa pun pernah berselisih pada seorang lelaki yang mati dan telah membunuh seratus orang. (Lihat Itsarul Haqqi ‘Alal Khalqi, Ibnul Wazir, hal. 119).
Hanya saja, perselisihan yang terjadi di antara mereka tidak menyebabkan kepada perpecahan dan permusuhan.
3. Nash-Nash dari As-Sunnah
Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk menyatukan barisan dan melarang dari perpecahan dan perselisihan.
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah ridha terhadap kalian pada tiga hal, dan membenci kalian pada tiga hal. Yaitu, engkau menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya, engkau berpegang teguh pada tali Allah dan jangan kalian berpecah-belah. Dan membenci ucapan katanya, banyak ucapan, dan menyia-nyiakan harta.” (HR Muslim [1715]).
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan Yahya bin Zakariya dengan lima kalimat untuk melaksanakannya dan memerintahkan Bani Isra’il supaya mereka mengerjakannya.” Lalu Nabi saw. bersabda: “Saya perintahkan kepada kalian dengan lima hal yang Allah memerintahkanku dengannya, yaitu untuk mendengar, taat, jihad, hijrah, dan berjama’ah. Karena orang yang menyelisihi jama’ah sejengkal saja, maka dia telah melepas tali Islam dari punggungnya, kecuali bila ia kembai.” (HR Ahmad [16178] dan Tirmidzi [2863]).
Berkata Ibnu Umar r.a., Umar telah berkhutbah seraya berkata, “Wahai manusia, saya beridiri di depan kalian adalah mewakili Rasulullah saw., beliau bersabda: ‘Saya wasiatkan kalian dengan para sahabatku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan kemudian orang-orang setelah mereka. Sungguh, setelah mereka akan muncul berbagai kedustaan, hingga ada seorang lelaki yang berjanji tapi tidak menepati janjinya. Ada orang yang menjadi saksi tapi kesaksiannya tidak dapat dijadikan sebagai saksi. Dan, tidaklah seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali ketiganya adalah syaitan. Hendaknya kalian berjama’ah dan jangan berpecah-belah. Karena syaitan bersama orang yang sendirian, dan syaitan lebih jauh dari orang yang berdua. Barang siapa yang menginginkan baunya surga, maka hendaklah ia melazimi jama’ah’.” (HR Tirmidzi [2165] dan Ahmad [115]).
4. Sejarah Para Sahabat Nabi
Perbedaan pendapat sering kali terjadi di kalangan para sahabat, tapi hati dan jiwa mereka tetap bersih.
Di dalam kitab Fathul Bari, Ibnu Hajar pernah mengutip penjelasan Al-Qurtubi, orang yang memperhatikan dan mengkaji perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar r.a. dan Ali r.a. dengan adil, maka dia akan mengetahui bahwa mereka saling mengakui keutamaannya masing-masing, dan hati mereka tetap terbangun untuk saling menghormati dan mencintai.
Dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya berkata, saya pernah mencela Hasan r.a. di depan ‘Aisyah r.a., maka dia berkata, “Jangan kamu mencelanya, karena dia telah mendapatkan bau harum dari Rasulullah saw.” (HR Bukhari [6150]).
Begitu juga dengan Ibnu Abbas r.a., ia pernah memuji Ibnu Zubeir di tengah perselisihan yang terjadi di antara mereka berdua. Ibnu Mulaikah berkata, “Di antara mereka berdua pernah terjadi perselisihan sehingga saya mendatangi Ibnu Abbas dan berkata, ‘Apakah engkau ingin membunuh Ibnu Zubeir dengan melanggar aturan Allah?’ Maka Ibnu Abbas berkata, ‘Saya berlindung kepada Allah, sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi Ibnu Zubeir dan Bani Umayah untuk berselisih. Dan saya, demi Allah, tidak akan ikut campur.’ Ada orang yang berkata kepadanya, ‘Orang-orang telah membai’at Ibnu Zubeir.’ Lalu beliau berkata, ‘Apakah perkara itu salah? Bukankah ayahnya adalah seorang hawari (pendamping Nabi saw., yang dimaksud adalah Zubeir), sedangkan kakeknya adalah sahabat Rasulullah saw. ketika di Gua Hira? Abu Bakar, ibunya adalah Asma’, bibinya adalah umul mukminin ‘Aisyah; bibinya juga adalah istri Nabi saw., Khadijah; neneknya adalah bibi Nabi saw., Shafiyah; Abdullah bin Zubeir adalah seorang yang baik dalam keislamannya dan pembaca Al-Qur’an’.”
Begitu juga dengan Ibnu Mas’ud r.a., ia sering sekali menyelisihi pendapat Umar bin Khatab r.a. Meski demikian, sungguh hati mereka selalu bersih, tidak ada tempat bagi hawanafsu di hatinya. Perselisihan yang terjadi di antara mereka tidak mengurangi sedikit pun keadilan mereka, dan tidak mengarah kepada permusuhan.
5. Jama’ah
Di antara nama lain Ahlus Sunnah adalah jama’ah. Mereka sangat bersungguh-sungguh menyerukan kepada persatuan. Bagaimana tidak, mereka adalah jama’ah dan kelompok sawadul a’zham (kelompok mayoritas).
At-Thahawi rhm. mengatakan, “Kami berpendapat bahwa jama’ah adalah kebenaran, sedangkan perpecahan adalah kesesatan dan azab.”
Imam Nawawi mengomentari hadits berikut, “Dan janganlah kalian berpecah belah,” hadits tersebut merupakan perintah untuk melazimi jama’ah kaum muslimin dan saling lemah lembut antara satu dengan lainnya. Hal ini merupakan salah satu kaedah dalam Islam. (Shahih Muslim bi Syarhi an-Nawawi, Imam an-Nawawi, hal. 11/12).
Ibnu Taimiyah rhm. berkata, “Kebaikan adalah semua kebaikan yang mengikuti salafus shaleh (orang-orang terdahulu), memperbanyak pengetahuan terhadap hadits Rasulullah saw., mendalaminya, berpegang teguh dengan tali Allah, melazimi jama’ah, dan menjauhi segala sesuatu yang dapat menyebabkan kepada perselisihan dan perpecahan. Kecuali, bila perkara tersebut jelas-jelas diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan, bila perkara tersebut masih samar, apakah perkataan dan perbuatan ini dapat menyebabkan pelakunya kepada perselisihan atau perpecahan, maka wajib untuk meninggalkannya.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, hal. 6/505).
6. Maslahat Jama’ah Tidak Sebanding dengan Mafsadat (Kerusakan) dari Perpecahan
Banyak sekali orang yang ingin mencapai suatu maslahat (manfaat) tetapi dengan melaksanakan mafsadah yang dapat menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Padahal, kemanfaatan dalam berjama’ah itu sama sekali tidak sebanding dengan kerusakan yang menyebabkan kepada perpecahan dan perselisihan.
An-Nu’man bin Basyir r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Membicarakan nikmat Allah adalah syukur dan meninggalkannya adalah kufur (ingkar). Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka dia pun tidak akan bisa mensyukuri nikmat yang banyak. Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak akan bisa bersyukur kepada Allah. Dan, jama’ah adalah barakah sedangkan perpecahan adalah adzab.” (HR Al-Baihaqi dan dihasankan oleh Al-Bani dalam Shahihil Jami’ [3014]).
Ibnu Mas’ud r.a. berkata, “Wahai manusia, hendaklah kalian taat dan berjama’ah, karena ia adalah jalan yang paling pokok untuk menuju kepada tali Allah yang telah diperintahkan. Dan, sungguh tidak sukanya kalian ketika berada di suatu jama’ah itu lebih baik daripada kalian bersenang-senang dalam perpecahan.” (HR Al-Lalika’i dalam kitab Syarhu Ushuli I’tiqadi Ahlis Sunnah, hal. 158-159 dan Asy-Syari’ah, Al-Ajrawi, hal. 13).
Dalam mengomentari hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm. berkata, “Apalagi bila perkara tersebut menimbulkan kejahatan yang begitu panjang dan perpecahan Ahlus Sunnah, maka kerusakan yang timbul pada perpecahan ini berlipat ganda dari kesalahan kecil seseorang dalam masalah furu’ (cabang).”
7. Kebangkitan Islam Membutuhkan Penyatuan Barisan
Kalaulah perkara jama’ah dan penyatuan barisan merupakan perkara yang sangat penting, maka tentunya hal itu sekarang lebih dibutuhkan untuk mewujudkan kebangkitan Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Perpecahan yang terjadi pada umat Islam, para ulama, dan para syaikhnya, serta para pemimpin dan pembesarnya sangat disukai oleh musuh-musuh Islam. Dan, hal itu bisa terjadi lantaran mereka meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, ‘Dan di antara orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani,’ ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya. Maka kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat, dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan.” (Al-Maidah: 14).
Tatkala orang meninggalkan apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada mereka, pasti akan terjadi permusuhan dan kebencian di antara mereka. Bila suatu kaum sudah berpecah-belah, pasti mereka akan rusak dan hancur; bila berjama’ah, mereka akan mendapatkan kebaikan. Karena, jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab (siksa).” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, hal. 3/421).
Sarana Penyatuan Barisan
Di antara sarana untuk menyatukan barisan adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui pentingnya penyatuan barisan.
Kaum muslimin harus meyakini pentingnya penyatuan barisan dan menyebarluaskan hadits-hadits yang berkenaan dengan hal itu hingga benar-benar mengetahui dan yakin akan hal tersebut.
2. Menguatkan tali hubungan.
Di antara sarana yang dapat membantu terwujudnya penyatuan barisan adalah dengan menguatkan hubungan antara para aktivis dan da’i serta kaum muslimin secara umum. Hal ini bisa dilakukan di sela-sela hubungan pribadi, silaturrahmi, berkumpul, menegakkan syari’at bersama, dan saling membantu dalam pekerjaan ataupun yang lainnya.
Hubungan saudara sesama muslim yang disertai dengan rasa cinta akan membuka pintu dialog ketika terjadi perselisihan. Kecintaan tersebut akan menjembatani perselisihan yang terjadi di antara mereka. Berbeda halnya bila mereka tidak pernah berhubungan. Kemungkinan besar akan sulit untuk disatukan.
3. Menimbang perkataan yang benar.
Tidaklah seorang muslim merasa keberatan untuk menyatukan barisan, kecuali di hatinya ada nifaq dan tidak suka untuk menolong agama Allah. Tidaklah seseorang cukup berhujah dengan kebenaran, tapi dia juga harus memperhatikan beberapa hal berikut.
1. Hendaknya kebenarannya benar-benar jelas dan nyata.
Banyak masalah yang menghalangi tercapainya kesatuan barisan. Contohnya permasalahan-permasalahan ijtihad yang cakupannya sangat luas. Dalam hal ini tidak mungkin bisa disatukan, sehingga tidak seyogyanya satu sama lain saling mengingkarinya, terlebih saling bermusuhan. Atau, dalam hal pelaksanaan jihad, sungguh dalam perkara ini sangat luas sekali pembahasannya. Sehingga, seyogyanya seorang muslim tidak cepat menghukumi orang lain yang belum bisa berjihad sebelum melakukan pembahasan yang mendalam mengenai hal ini.
2. Hendaknya kebenaran tersebut disertai dengan penjelasan dan ilmu.
Imam Bukhari dalam kitab Jami’ush Shahih mengutip perkataan Imam Ali r.a., “Ceritakanlah kepada manusia dengan apa yang bisa mereka mengerti, apakah engkau senang bila dia mendusatakan Allah dan Rasul-Nya?” (HR Bukhari, Kitabu al-Ilmi, no. 124).
‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Tidaklah engkau megatakan suatu perkataan kepada suatu kaum yang tidak bisa dicapai oleh akal mereka, kecuali akan menimbulkan fitnah pada sebagian mereka.” (HR Muslim dalam muqaddimah shahihnya).
3. Hendaknya menjelaskan kebenaran dengan metode yang sesuai.
Seorang muslim seyogyanya berbuat adil dan menjauhi kezhaliman. Selain itu, ia juga harus paham bahwa tanggung jawabnya dalam menyampaikan kebenaran adalah untuk menyatukan barisan kaum muslimin.
4. Hendaknya dalam menjelaskan kebenaran dilakukan oleh orang yang pantas.
Hendaknya seseorang berdakhwah sesuai dengan kedudukannya masing-masing, seperti seorang pejabat berdakwah di kalangan para pejabat dan lainnya. Sekalipun, hal ini tidak mutlak.
5. Setelah sempurnanya penjelasan kebenaran, hendaknya tidak terburu-buru menjelaskan hal yang dapat menimbulkan perselisihan.
Permasalahan yang bertele-tele dan tidak ada gunanya hanya akan membawa kepada perselisihan dan perpecahan umat.
4. Adil dalam menghukumi kesalahan.
Seorang muslim tidak mungkin terlepas dari kesalahan, kecuali Nabi Muhammad saw., sekalipun orang tersebut bertakwa, berilmu, dan wara’.
Sebagaimana telah diketahui, kesalahan merupakan perkara yang bertingkat-tingkat. Seperti halnya dosa, ada dosa-dosa besar dan ada dosa-dosa kecil. Salah dalam perkara yang sudah nyata kebenarannya tidak sama dengan kesalahan pada perkara yang masih samar. Menyelisihi dalil yang sudah jelas-jelas shahih tidak sama dengan menyelisihi dalil yang masih muhtamal (yang masih ada kemungkinan shahih, hasan, atau dhaif) atau fatwa para ulama.
Tatkala telah jelas penjelasan akan kesalahan seorang ulama atau da’I, hendaknya ia adil dalam hal itu dengan menjauhi kesalahan tersebut, menjauhi sifat berlebih-lebihan dalam semua hal, dan menjauhi perselisihan dan perpecahan.
5. Setiap orang mempunyai kelebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm. berkata, “Ini adalah inti pembahasan pada bab ini. Seorang mujtahid yang berpegang pada dalil yang dilakukan oleh seorang imam, penguasa, ulama, pengamat, mufti, dan selainnya, apabila telah berijtihad dan berlandaskan kepada dalil, maka bertakwalah kepada Allah semampunya. Karena, inilah yang dibebankan Allah kepadanya. Orang yang menaati Allah, maka baginya pahala, maka bertakwalah semampunya dan Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. Berbeda halnya dengan orang-orang yang berpaham Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Qadariyah.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah: 19/216-217).
Beliau juga berkata, “Adapun para Nabi–semoga Allah meridhai mereka semua—mereka adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama, yaitu ma’shum dari dosa. Adapun, orang-orang yang jujur, para syuhada`, dan orang-orang shalih, mereka bukanlah orang-orang yang ma’shum. Orang yang berijtihad terkadang mendapatkan pahala dan tekadang salah. Apabila mereka berijtihad dan benar ijtihadnya, maka baginya dua pahala; sedangkan mereka yang berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala atas kesungguhan ijtihadnya, dan kesalahan mereka diampuni. Adapun orang-orang sesat, mereka menjadikan kesalahan dan dosa sebagai hal biasa. Bahkan, terkadang mereka berbuat melampaui batas. Mereka mengklaim diri mereka ma’shum. Selain itu, mereka juga menyatakan bahwa orang beriman dan berilmu tidak ma’shum tapi juga tidak berdosa.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, hal: 35/69).
6. Saling menghormati.
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, manusia tidak ada yang ma’shum, kecuali Nabi saw. Akan tetapi, kebanyakan para aktivis tidak menyadari hal ini. Tatkala ada seorang ulama yang berbuat salah, mereka langsung mengkritik dan menjatuhkannya tanpa memperhatikan aturan-aturannya.
Hendaknya para ulama dan aktivis saling bermuamalah dengan baik, saling menghormati, baik dengan orang yang lebih tua atau yang lebih kecil.
7. Hendaknya tidak disibukkan mencari-cari kesalahan manusia.
Seorang muslim diperintahkan untuk menjaga lisannya dan menjaga kehormatan kaum mukminin. Lalu, bagaimana dengan orang yang hanya disibukkan mencari-cari kesalahan saudaranya semuslim? Maka, hendaknya orang yang sering disibukkan mencari-cari kesalahan orang lain mengintrospeksi diri, boleh jadi hal itu hanya dilatarbelakangi oleh hawa nafsu.
8. Menghormati orang yang lebih tua.
Syariat telah memerintahkan kita untuk bertawadhu’ (rendah hati). Kesalahan mereka tidaklah sama dengan kesalahan selain mereka. Oleh sebab itu, hendaknya selalu dijaga kedudukan mereka. Bila ada kesalahan, perkara mereka berbeda dengan selain mereka.
Sa’id bin al-Musayyib rhm. berkata, “Tidak ada orang terhormat, berilmu, dan orang yang mempunyai keutamaan, kecuali ia pasti mempunyai aib. Akan tetapi, hendaknya orang lain tidak perlu menyebut-nyebut aibnya. Karena, bagi siapa yang keutamaannya lebih banyak daripada kekurangannya, maka kekurangannya akan ditutupi dengan keutamaannya.” (Al-Kifayah, hal. 102 dan Jamiu Bayani al-Ilmi wa Fadlihi, hal. 2/821).
Imam Ibnul Qayim rhm. berkata, “Barang siapa yang memiliki ilmu syar’i dan dia mempunyai kedudukan yang mulia dalam Islam, terkenal dengan keshalihan dan akhlak baiknya, apabila ia berijthiad dan salah—karna ia tidak terlepas dari kesalahan—maka dia tetap mendapatkan pahala atas ijtihadnya, dan orang lain tidak boleh mengikuti ijtihadnya yang salah, dan tidak boleh kita menjatuhkan nama baiknya di depan kaum muslimin.” (I’lamu al-Muwaqi’in, Ibnul Qayim, hal. 3/282).
9. Menjauhi perselisihan.
Perselisihan biasanya berawal dari kesalahan, peremehan, hawa nafsu, dan sifat berlebih-lebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm. berkata, “Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus dijaga, di antaranya orang yang diam sama sekali pada permasalahan ini—apakah orang kafir melihat Tuhan mereka—… Oleh sebab itu, tidak sepantasnya bagi orang berilmu menjadikan permasalahan ini sebagai tameng untuk mengutamakan saudara-saudaranya yang ia sukai dan memojokkan kaum muslimin lainnya yang tidak ia sukai. Karena, yang seperti inilah yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan, hendaknya jangan membawa permasalahan ini kepada kaum muslimin yang masih awam, dikhawatirkan akan muncul fitnah di antara mereka. Kecuali, kalau ada seseorang yang bertanya, maka jawablah sesuai dengan kadar ilmu yang kamu miliki.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, hal. 6/503-504).
Beliau juga berkata, “Adapun perselisihan dalam masalah hukum, maka hal itu banyak terjadi di kalangan para sahabat. Sebagaimana sahabat Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., keduanya adalah sayyid-nya kaum muslimin. Keduanya berselisih, tetapi keduanya tidak ada maksud apa pun kecuali kebaikan. Nabi saw. bersabda kepada para sahabatnya, ‘Jangan salah seorang di antara kalian shalat ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah.’ Akhirnya ketika mereka berada di tengah-tengah perjalanan, waktu shalat ashar pun tiba. Sekelompok dari mereka berkata, ‘Kita tidak akan shalat ashar kecuali setelah sampai di Bani Quraizhah.’ Sekelompok yang lain berkata, ‘Kami tidak ingin mengakhirkan shalat.’ Sehingga mereka pun shalat ketika berada di perjalanan, dan tidak ada seorang dari dua kelompok tersebut yang saling mencela.” (HR Bukhari dan Muslim), (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, hal. 24/173).
10. Membedakan antara perbedaan pendapat dengan perbedaan hati.
Tidak mengapa terjadinya perbedaan pendapat dan ijtihad. Tetapi, kaum muslimin harus mewaspadai bila terjadi perbedaan hati. Nabi saw. telah mengingatkan para sahabatnya dari hal itu. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata, saya telah mendengar seseorang yang membaca sebuah ayat, dan bacaannya berbeda terhadap apa yang telah saya dengar dari bacaan Nabi. Lalu saya datang kepada beliau dan menceritakan kejadian tersebut. Dari wajah beliau terpancar seolah-olah beliau tidak suka dengan kejadian tersebut. Kemudian beliau bersabda, “Kalian berdua adalah baik, tapi jangan kalian berselisih karena orang-orang terdahulu hancur akibat mereka berselisih.” (HR Bukhari, no. 3217).
11. Perselisihan itu pasti terjadi.
Perselisihan itu pasti terjadi dan sulit untuk dihindarkan. Tetapi, apabila ingin menyatukan barisan, perbedaan pendapat harus diminimilasasi dan berusaha untuk menyatukannya. Kecuali, pada hal-hal yang Islam memang memberi kelonggoran di dalamnya untuk berselisih seperti halnya dalam masalah furu’.
12. Membuka forum dialog disertai dengan akhlak yang baik.
Di antara cara meminimilasasi terjadinya perbedaan pendapat adalah dengan membuka berbagai forum dialog, karena dengannya akan didapati titik temunya. Bila kita amati, membuka forum dialog pun telah diajarkan oleh para salaf. Mereka berselisih dan berbeda pendapat, tetapi kemudian mereka membuka forum dialog dengan cara yang baik.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm. berkata, “Para ulama dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka pernah berselisih dalam suatu perkara, tetapi mereka tetap mengikuti perintah Allah Ta’ala. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa’: 59). Mereka saling tukar pikiran dalam suatu masalah, bermusyawarah, dan saling menasihati. Terkadang mereka berselisih dalam masalah ilmu ataupun perbuatan, tetapi mereka tetap menjaga hubungan persaudaraan.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, hal. 24/172).
13. Berusaha untuk mendamaikan antara dua orang yang berselisih.
Di antara unsur yang tak kalah pentingnya dalam menyatukan barisan umat ini adalah mengadakan perdamaian. Sebelum terjadinya permusuhan di antara sesama kaum muslimin, maka harus didamaikan. Allah telah berfirman: “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!” (Al-Hujarat: 9).
Nabi saw. juga mengkuatkan pentingnya peranan ini. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad bin As-Saaidy r.a., telah sampai kabar kepada Rasulullah bahwa Bani Auf bin Amru berselisih, maka kemudian Rasulullah saw. keluar mendamaikannya. (HR Bukhari [1224] dan Muslim [421]).
Sumber: (Majalah Islamiyah Syahriyah Al-Bayan, [Juli, 2002], hal. 30-36)
read more...