Adsense Indonesia
Showing posts with label Tazkiyah. Show all posts
Showing posts with label Tazkiyah. Show all posts

Thursday, January 14, 2010

ZUHUD, Apa dan Mengapa?

 Oleh: Zul Fahmi, 2 Oktober 2009

I. PENGERTIAN

A. Menurut bahasa adalah
1. Lawan kata dari menyenangi,
2. Meninggalkan sesuatu dan berpaling darinya,
3. Berpalingnya kecintaan terhadap sesuatu kepada yang lebih baik darinya
4.Berpaling dari sesuatu untuk membebaskannya, menghinakannya, dan mengangkat keinginan darinya
B. Menurut istilah adalah tak tergantungnya keinginan hati dan jiwa dengan kenikmatan kehidupan dunia, kegemerlapannya dan keindahannya.

II. DALIL-DALIL TENTANG ZUHUD

A. Al Qur’an
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {16} وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُوَأَبْقَى {17}
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al A’la :16-17)

مَاكَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَّكُونَ لَهُ أَسْرَى حَتَّى يُثْخِنَ فيِ اْلأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللهُ يُرِيدُ اْلأَخِرَةِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ {67}
Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Anfal: 67)

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآأُوتِىَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ {79}
Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". (QS. Al Qoshos : 79)


أَلَمْ تَرَإِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقُُ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلآَ أَخَّرْتَنَآ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلُُ وَاْلأَخِرَةُ خَيْرُُ لِّمَنِ اتَّقَى وَلاَ تُظْلَمُونَ فَتِيلاً {77}
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (QS. An-Nisa :77)

اللهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَاالْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي اْلأَخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ
Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). (QS. Ar Ro’du : 26)


وَقَالَ الَّذِي ءَامَنَ يَاقَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ {38} يَاقَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعُُ وَإِنَّ اْلأَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ {39}
Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghofir : 38-39)

B. Al Hadits:

عَنِ الْمُسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّادٍ أَخِي بَنِي فِهْرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ .
Dari al Mustaurid bin Saddad alfahri berkata, bersabda Rasulullah saw. : ”Tidaklah dunia dibanding dengan akherat kecuali seperti salah seorang darimu mencelupkan jarinya dilaut maka lihatlah apa yang tersisa (HR. Muslim)

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ
Dari Sahl bin Sa’din As Sya’idi berkata:”seorang lelaki datang kepada Nabi SAW dan berkata:”Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku amalan yang jika aku mengerjakannya maka aku akan dicintai Allah, dan dicintai manusia, maka beliau bersabda:”Zuhudlah didunia niscaya kamu akan dicintai Allah, Dan zuhudlah apa yang ada ditangan manusia niscaya kau akan dicintai oleh menusia (Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya )

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ فَقَالُوا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ قَالَ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ قَالُوا وَاللَّهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ لِأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ فَقَالَ فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ (رواه مسلم)
Dari Jabir bahwa nabi SAW memasuki sebuah pasar dan manusia berada disekelilinganya dan dihadapkan seekor anak kambing tuli lagi mati, maka dihidangkannya dan diambil telinganya baliau bersabda:”Siapa darimu yang menginginkan ini dengan dirham? Mereka berkata kami tak menginnginkannya dan tak condong kepadanya. Beliau bersabda: “Apakah kalian mau itu untukmu? Demi Allah seandainya anak kambing itu hidup akan menjadi aib, karena ia tuli bagaimana pula dia sekarang mati?” Beliau bersabda:” Demi Allah, dunia itu lebih hina dihadapan Allah dibanding ini bagimu” (HR. Muslim)

III. PERKATAAN SALAF TENTANG ZUHUD

1. Berkata Abu Muslim Al Kholani,: Bukanlah kezuhudan di dunia itu dengan mengharamkan yang halal, dan membuang harta akan tetapi kezuhudan di dunia itu jika apa yang ada ditangan Allah lebih diyakini dari pada apa yang ada ditangannya, dan jika kamu terkena musibah kamu lebih berharap kepada pahalanya dan simpanan modal musibah itu.”
2. Berkata Fudhail bin Iyadl :
أَصْلُ الزُّهْدِ الرِّضَاعَنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ
” Asli dari zuhud ialah ridlo kepada Allah azza wa jalla”.
3. Berkata Al Hasan :
”Orang yang zuhud itu jika melihat seseorang berkata dia lebih baik dariku”.
4. Berkata Wuhaib bin Al Warod:
الزُّهْدُ فِى الدُّنْيَا أَنْ لاَ تَأْسَى عَلَى مَا فَاتَ مِنْهَا وَ لاَ تَفْرَحْ بِمَا أَتَاكَ مِنْهَا
”Zuhud didunia itu kamu tidak putus asa terhadap apa yang hilang darinya dan tidak gembira terhadap yang datang padamu darinya”.
5. Sufyan bin Uyainah menjawab ketika ditanya tentang siapa yang zuhud di dunia:
مَنْ إِذَا َأنْعَمَ عَلَيْهِ شَكَرَ وَ إِذَا ابْتَلَى صَبَرَ
”Siapa yang diberi nikmat bersyukur dan jika diberi ujian bersabar”.
6. Berkata Sufyan Ats Tsauri:
الزُّهْدُ فِى الدُّنْيَا قِصَرُ الأَمَلِ لَيْسَ بِأَكْلِ الْغَلِيْظِ وَ لاَ لُبْسِ الْعَبَاءِ
”Zuhud di dunia itu memendekkan angan-angan, bukan dengan makan yang kasar, dan memakai pakaian yang tebal”.
7. Berkata Imam Ahmad: ”Zuhud di dunia memendekkan angan-angan” dan ai berkata di lain waktu: ”memendekkan angan-angan dan berputus asa terhadap apa yang ada di tangan manusia”.
7. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
تَرْكُ مَا لاَ يَنْفَعُ فِى الأَخِرَةَ
”Zuhud itu meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akherat “.
9. Berkata Ibnu Jalai: ” Zuhud adalah melihat dunia dengan picingan mata, maka dunia menjadi kecil di matamu, dan mudah bagimu berpaling darinya”.
10. Berkata Abu Sulaiman Ad Daroni :
تَرْكُ مَا لاَ يُشْغِلُ عَنِ اللهِ
”Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang menyibukkan dari Allah”.
11. Berkata Ruwaim Junaid: ”Zuhud mengecilkan dunia dan menghapus bekasnya dalam hati”.

IV. POTRET KEZUHUDAN RASULULLAH SAW.

Yahya bin Hakim bercerita padaku berkata Abu Dawud bercerita padaku Dia berkata: ”Saya diberitahu Amru bin Murrah dari Ibrahim dari Alqomah dari Abdullah berkata: ”Nabi SAW tidur di atas tikar maka membekas pada kulitnya, saya berkata: “Demi bapak dan ibuku ya Rasulullah, seandainya anda memberitahukan pada kami maka akan kami beri tempat tidur yang dapat melindungi anda.” Berkata Rasulullah SAW: ”Tidaklah aku dan dunia ini melainkan saya dan dunia ini seperti pejalan kaki yang berlindung dibawah pohon kemudian istirahat dan meninggalkannya.”
Baihaqi mengeluarkan dari Aisyah RA. Ia berkata: ”Masuk dirumahku wanita Anshor, dia melihat tempat tidur Rasulullah SAW dari selimut yang kusut, maka dia mengirimkan kepadaku tempat tidur dari wol, Rasulullah masuk dan bertanya:”Apa ini wahai Aisyah? Ia berkata:”Saya menjawab:”Wahai Rasulullah fulanah dari Anshor masuk dan melihat tempat tidurmu, maka dia pergi dan mengirimkan barang ini kepadaku. Rasul berkata: ”Kembalikan wahai Aisyah, demi Allah jika aku ingin maka Allah akan memberiku gunung emas dan perak.
Anas RA berkata:”Rasulullah SAW memakai kain wol yang ditambal, Anas berkata:”Rasulullah SAW makan makanan yang tidak enak rasanya dan memakai pakaian yang berwarna merah kehitam-hitaman yang kasar. Dikatakan pada Hasan Apakah al basa’ itu? Dijawab:’Gandum yang kasar.”
Dari Aisyah RA berkata: Diberikan kepada Rasulullah segelas susu dan madu, maka Rasulullah berkata: “Dua minuman dalam satu tempat dan dua darah dalam satu gelas ?!! Tidak ada keperluan bagiku padanya sesungguhnya saya tidak menginginkan untuk mengharamkannya akan tetapi saya membenci jika Allah menanyakan padaku tentang kelebihan dunia pada hari akherat saya tawadlu’ kepada Allah, barang siapa tawadlu’ kepada Allah maka Allah akan mengangkatnya dan barang siapa takabbur kepada Allah maka akan direndahkan, dan barang siapa sederhana akan dikayakan oleh Allah dan barang siapa yang banyak mengingat mati akan dicintai Allah

V. POTRET ZUHUD PARA SALAF

1. Abu Bakar Assidiq RA.
Al Bazzar mengeluarkan dari Zaid bin Arqom RA dia berkata:”Kami bersama AbuBakar RA dan kami memberinya air dan madu, tatkala beliau memegangnya menangislah tersedu-sedu sampai kami menyangka ada sesuatu padanya serta kami tidak menanyainya tentang sesuatu itu. Ketika telah reda tangisnya kami berkata:”Wahai kholifah Rasulullah SAW apa yang membuatmu menangis ini? Beliau menjawab: ”Ketika saya bersama Rasulullah SAW saya melihatnya menahan sessuatu untuk dirinya dan saya tak melihat sesuatupun maka saya bertanya:”Wahai Rasulullah apa yang saya lihat padamu, anda menahan sesuatu untuk diri anda dan saya tak melihat sesuatupun? Beliau bersabda: ”Dunia mendekat-dekat padaku maka aku berkata:”Jauhlah dariku, maka dunia berkata:”Sesungguhnya kamu tidaklah menyusulku,” berkata Abu Bakar: “Maka itu peringatan bagiku dan saya khawatir telah menyelisihi perintah Rasulullah SAW dan dunia mendatangiku.”
Ahmad mengeluarkan dalam kitab zuhud dari Aisyah RA berkata:”Abu Bakar RA meninggal tak meninggalkan dinar dan dirham, sebelumnya beliau telah mengambil uangnya kemudian disumbangkan kepada baitul mal.
Dari Ibnu Saad, dari Atho’ bin As Saaib berkata:”Ketika Abu Bakar lagi bai’at pagi-pagi dan diatas pundaknya kain bergaris dan dia pergi ke pasar, Umar bertanya: Mau kemana anda akan pergi? Dijawab :”Pasar” Umar berkata:” Anda mau berbuat apa sedangkan anda telah diserahi urusan kaum muslimin?! Dia menjawab: “Dari mana aku memberi makan keluargaku ? ...”
2. Umar bin Khottob RA
Para sahabat menginginkan untuk menambah gaji pada Umar namun Umar menolaknya .
Dari Al Hasan dia berkata: Umar bin Khottob RA berpidato selagi dia sedang menjadi kholifah sambil mengenakan mantel yang ada sepuluh tambalannya.
Ibnu Saad mengeluarkan dari Anas RA berkata:”Saya melihat Umar RA beliau waktu itu amirul mukminin sedang menjauhkan satu sho’ kurma, beliau memakannya sampai memakan kurma yang paling buruk.
3. Utsman bin Affan RA
Abu Nuaim mengeluarkan pada kitabnya Al Hilyah 1/60 dari Abdul Malik bin Syidad berkata:”Saya melihat Utsman bin Affan hari Jumat diatas mimbar, memakai mantel Adnani yang murah harganya yakni empat dirham atau lima dirham.
Dari Hasan ditanya tentang siapa yang sedang tiduran di masjid dijawab :”Saya melihat Utsman bin Affan RA sedang tiduran di masjid, beliau saat itu kholifah beliau bangun dan tikar membekas punggungnya maka dikatakan inikah amirul mukminin?! Inikah amirul mukminin.
Dari Syurohbil Bin Muslim Bahwa Utsman RA memberi makan manusia dengan makanan yang berasal dari pemerintah, dan beliau masuk rumah makan, cuka dan minyak.
4. Ali bin Abi tholib.
Ali bin Abi Tholib berkata:”Ketika aku menikahi Fatimah, aku dan dia tidak memiliki tempat tidur kecuali selembar kulit domba. Kami tidur diatas lembaran kulit itu pada malam hari dan kami melipatnya pada siang hari sebagai wadah air . aku tidak memiliki pembantu selain dirinya dia harus membuat adonan roti.
Ali bin Abi Tholib adalah sahabat yang paling zuhud sekalipun begitu dia memilki empat istri dan belasan wanita tawanan.
Ibnu Mubarok mengeluarkan dari Zaid bin Wahhab berkata: ”Ali RA keluar memakai mantel dan surban yang telah ditambal dengan potongan kain lalu ditanyakan padanya, dijawab oleh Ali Ra. Sesungguhnya aku memakai kain ini supaya jauh dari kebanggaan dan kesombongan dan lebih baik bagiku untuk sholat, dan sunnah untuk orang mukmin.
5. Abu Ubaidah bin Jarroh
Makmar berkata:”Ketika Umar datang kesyam disambut manusia dan pembesar-pembesarnya, berkata Umar :”mana saudaraku? Mereka berkata:” Siapa”? Dijawab: ”Abu Ubaidah” Mereka berkata: ”Sekarang dia datang, ketika dia datang Umar datang dan taanuk (Rangkulan leher) kemudian masuk rumahnya, maka Umar tidak melihat di rumahnya kecuali pedang, tameng dan panahnya.
6. Hasan bin Ali
Ia termasuk golongan orang zuhud walaupun memiliki banyak budak perempuan, mencintai perempuan dan menikahi banyak perempuan.
7. Said bin Musayyib
Said bin Musayyib berdagang minyak dan meninggalkan empat ratus dinar. Dia berkata:”Aku meninggalkannya untuk menjaga kehormatanku dan agamaku.
8. Abdullah bin Mubarok
Abdullah bin Mubarok adalah termasuk pemimpinnya para zahid yang mempunyai banyak harta dan membiayai haji ikhwan-ikhwannya dan mengembalikan uang yang dikumpulkan ikhwannya.
9. Uwais Al Qorny
Dari Asbah bin Zaid berkata:”Jika sore hari Uwais berkata malam ini untuk ruku’ maka ia ruku’ sampai pagi , dan jika datang sore hari ia berkata:Ini malam untuk sujud maka dia sujud sampai pagi dan jika datang sore hari dia sedekahkan kelebihan makanan dan minuman yang ada dirumahnya kemudian dia berkata, ”ya Allah barang siapa mati kelaparan janganlah hukum aku, dan barang siapa yang mati tidak berbaju jangan pula hukum aku.

10. Umar bin Abdul Aziz
Berkata Maimun bin Mihron: “Saya bersama Umar bin Abdul Aziz selama enam bulan aku tidak melihat selendangnya berganti-ganti, dia mencuci dari Jum’at ke Jum’at dan dikasih minyak zafaron.
11. Al Qosim bin Muhaimiroh
Berkata Al Qosim bin Muhaimiroh: ”Tak pernah terkumpul di meja makanku dua macam makanan sama sekali.”
Begitulah kezuhudan para salaf dalam hal makanan, pakaian, sampai pada pemerintahan atau jabatan yang terkenal pada salaf tentang kezuhudan dalam jabatan adalah Abdurohman bin Auf, Abu Dzar Al Ghiffari dan yang lain-lain yang tidak menginginkan jabatan. Itulah sekilas gambaran zuhud dari Rasulullah dan pengikut-pengikutnya. Mereka meninggalkan kehidupan dunia bukan karena mereka tidak mempu meraihnya tetapi semata-mata karena mengharapkan akherat nanti. Salah satunya yang diperoleh Nabi SAW pada setiap peperangan, diantaranya perang Hunain Nabi mendapat seperlima bagian kekayaan dari jumlah ghonimah yang terdiri dari jumlah tawanan musuh enam ribu orang onta berjumlah dua puluh empat ribu ekor kambing sejumlah empat puluh ekor lebih, logam perak berjumlah empat ribu uqiyah.Belum lagi peperangan-peperangan yang lain dimasa Rasulullah sebanyak 68 kali, 28 kali dibawah pimpinan beliau langsung dan selebihnya dengan mengutus utusan-utusan. Tetapi walaupun demikian ketika Rasulullah SAW meninggal dunia baju besinya digadaikan untuk tanggungan hutangnya kepada seorang yahudi yang jumlah hutangnya berjumlah tiga puluh sok atau tujuh puluh lima kilogram gandum. Dan para sahabat beliau, kepada mereka telah didatangkan dunia dengan segala perhiasannya seolah-olah dunia datang memaksa agar mereka tergoda, namun dunia itu telah gagal memperdayakan mereka. Begitu pula generasi-generasi berikutnya yang gemilang.

VI. DERAJAT ZUHUD

1. Diantara manusia ada yang zuhud didunia sekalipun sebenarnya ia masih ada kesenangan dengan dunia. Namun ia tetap berusaha untuk tetap zuhud. Orang semacam ini dinamakan mutazahhid yaitu merupakan awal untuk zuhud
2. Zuhud didunia secara sukarela tanpa memaksakan dirinya untuk zuhud. Tapi ketika ia melihat zuhudnya maka justru malah berpaling, lalu merasa ujub terhadap dirinya. Dia melihat dirinya telah meniggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang nilainya lebih besar darinya, seperti orang yang meninggalkan satu dirham untuk mendapatkan dua dirham, ini termasuk zuhud yang kurang.
3. Ini merupakan derajat zuhud yang paling tinggi yaitu zuhud dengan suka rela, benar-benar zuhud dalam zuhudnya. Dia tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang tidak berguna, seperti orang yang meninggalkan sesobek kain perca untuk mendapatkan ganti mutiara, dia tidak melihatnya sebagai tukar tambah, dunia yang dibandingkan akherat lebih baik dari sesobek kain perca jika dibandingkan dengan mutiara. Ini merupakan gambaran kesempurnaan zuhud.

VII. PEMBAGIAN ZUHUD JIKA DIKAITKAN DENGAN SESUATU YANG DISENANGI.

Ada tiga derajat:
1. Zuhud untuk mendapatkan keselamatan dari siksa, selamat pada waktu hisab dan bencana yang akan dihadapi manusia. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang takut.
2. Zuhud untuk mendaptkan pahala dan kenikmatan yang dijanjikan. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang berharap. Mereka meninggalkan kenikmatan duniawi untuk mendapatkan kenikmatan ukhrowi
3. Ini zuhud yang tertinggi yaitu tidak zuhud untuk membebaskan diri dari penderitaan dan bukan untuk mendapatkan kenikmatan tetapi untuk bertemu dengan Allah. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang berbuat kebaikan dan orang-orang yang berpengetahuan. Kenikmatan melihat Allah jika dibandingkan dengan kenikmatan jannah, seperti kenikmatan raja di dunia dan pemegang kekuasaan, dibandingkan kenikmatan dapat menguasai seekor burung atau mainan.

VIII. ZUHUD SEBAGAI KEBUTUHAN HIDUP
Kebutuhan hidup yang pokok ada tujuh macam :
Makanan, pakaian, tempat tinggal, perkakas, sarana untuk menikah, harta dan kedudukan. Inilah rinciannya :
1. Ketahuilah bahwa hasrat orang yang zuhud terhadap makanan sekedar yang dapat menghilangkan rasa lapar dan yang bisa menegakkan badannya dan bukan bermaksud mencari kenikmatan
2. Pakaian, orang zuhud mencukupkan diri dengan pakaian yang dapat melindungi badannya dari serangan hawa dingin dan panas serta menutup aurot. Tidak ada salahnya dia sedikit berhias agar keadaannya yang melarat tidak membuat dirinya menjadi buah bibir.
3. Tempat tinggal. Orang yang zuhud ada tiga macam dalam kaitannya dengan tempat tinggal. Yang paling tinggi adalah orang zuhud yang tidak menuntut tempat tinggal yang khusus bagi dirinya. Dia cukup puas berada dipojok-pojok masjid seperti Ashabus Shuffah. Yang pertengahan adalah orang zuhud yang menuntut tempat yang khusus bagi dirinya seperti gubug yang terbuat dari daun-daun kurma atau yang sejenis. Yang paling rendah adalah orang zuhud yang menuntut rumah permanen dan bilik khusus. Jika dia menuntut bangunan yang luas dan atapnya yang tinggi berarti dia sudah keluar dari batasan zuhud dalam masalah tempat tinggal
4. Perkakas rumah tangga. Orang zuhud harus membatasi diri pada tembikar, menggunakan satu bejana, makan dalam satu piring dan minum dengan piring itu pula. Siapa yang mempunyai banyak perkakas rumah tangga dan tinggi nilainya maka dia telah keluar dari batasan zuhud
5. Sarana pernikahan. Tidak ada maknanya bagi zuhud jika tidak mau menikah sama sekali, begitu pula tentang berapapun jumlah istrinya.
6. Harta adalah sangat penting dalam kehidupan ini. Orang zuhud sangat membatasi diri dalam masalah harta agar tidak terlalu menyita waktu namun begitu banyak orang-orang sholeh yang juga aktif berdagang dan sekaligus menjaga kehormatan dirinya dari hal-hal yang hina.
7. Kedudukan. Setiapa manusia harus memiliki kedudukan sekalipun hanya dihati pembantunya. Kesibukan orang zuhud dalam zuhudnya tentu akan mendatangkan kedudukan itu sendiri didalam hati. Karena itu dia harus waspada dari kejahatannya.

IX. TANDA-TANDA ZUHUD
Ibnu Mubarok berkata:”Zuhud yang paling utama ialah menyembunyikan zuhud. Untuk itu perlu diperhatikan tanda-tandanya:
1. Tidak boleh menmpakkan kegembiraan karena yang ada dan tidak boleh menampakkan kesedihan karena tidak ada. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hadid : 23. Ini merupakan tanda zuhud dalam kaitannya dengan harta.
2. Harus menyeimbangkan diri terhadap orang yang memuji dan mencelanya. Ini merupakan tanda zuhud dalam kaitannya dengan kedudukan.
3. Kebersamaannya hanya dengan Allah. Biasanya didalam hatinya ada kelezatan karena ketaatan.

X. KESALAHAN DALAM MEMAHAMI ZUHUD
Sebagian manusia salah dalam memahai zuhud, Mereka mengira bahwa Islam menyukai kefakiran bagi muslimin dan menyuruhnya untuk melebihkan dan mengutamakan hal tersebut. Tashowwur yang salah ini mengakibatkan mereka memutuskan keinginan untuk beramal dan menghasilkan serta memakmurkan dunia, mereka suka berada dipojok-pojok, ujung-ujung atau lorong, tempat pertapaan rahib dengan dalih menyendiri untuk beribadah dan mengutamakan amalan akherat, selanjutnya menjangkitlah penyakit malas dan selalu ingin istirahat serta penyakit tamak pada pemberian manusia dan pujiannya dan apa-apa yang mereka curahkan padanya dari makanan dan minuman.
Sebab kesalahan mereka adalah tidak melihat pada nash-nash yang satu sama lainnya saling melengkapi, mereka hanya menyandarkan dan mengandalkan nash-nash tentang zuhud di dunia dan enggan dalam memahaminya. Dan mereka tidak melihat pada nash-nash yang menganjurkan pada amal, bekerja, memakmurkan dunia, dan mengambil sebab-sebab kekuatan, dan nash-nash yang menganjurkan setelah itu untuk mencurahkannya pada jalan Allah setelah mencari hal-hal yang halal untuk zuhud di dunia mencari ridlo Allah.



XI. SASARAN DARI ZUHUD DI KEHIDUPAN DUNIA

1. Memotifasi seorang muslim untuk mencurah apa yang dimiliki dijalan Allah, berkorban dari kemewahannya, keindahannya, dan kelezatannya untuk mencari ridho Allah. Islam menyuruh untuk zuhud di dunia bukanlah menyuruh untuk meninggalkan amal dan kerja yang menghasilkan dan berbuah dan bukan pula menyuruh untuk fakir, lemah, kerendahan akan tetapi zuhud itu tarbiyah akhlaqiyah yang menjadikan seorang muslim kepada keutamaan dalam pencurahan dan pemberian, dan jauh dari bakhilan kikir dan hal-hal yang menyebabkan hitamnya hati, sombong, ujub, merasa tinggi dihadapan manusia, melampaui batas, dan lain-lain.
2. Islam menyuruh zuhud didunia untuk qona’ah pada pemberian Allah dalam rizqi, berpegang teguh terhadap yang diizinkan Allah dalam bekerja, dan tarbiyah kepada sikap menerima terhadap apa-apa yang ada ditangan manusia serta tidak tamak terhadap apa-apa yang dipunyai orang lain, dan tidak melihat padanya dengan rasa hasrat dan rasa ingin memilikinya.
3. Islam menyuruh zuhud didunia ini untuk mengalihkan hati orang mukmin dari ketergantungan terhadap sesuatu hal-hal keduniawiaan, kelezatannya dan kenikmatannya supaya menghadap akherat dan kecintaan Allah serta keriridloanNya sampai seorang mukmin memandang bahwa keridloan Allah didapat dengan mengosongkan dari tujuan-tujuan kehidupan dunia untuk tercapai keridloan Allah serta mengutamakan pahala-pahala akherat.
Wallahu A’lam bis Showab
read more...

Amal Penyelamat Dari Bencana

Oleh : Zul Fahmi, 12 Januari 2010



Sekarang ini masih hangat pemberitaan di berbagai media, seputar bencana yang melanda negeri kita. Ratusan bahkan ribuan banyaknya nyawa telah meninggal dunia, rumah-rumah roboh, gedung-gedung sekolah, perkantoran, pusat-pusat bisnis hancurn lebur tak bersisa. Dan semua itu tidak terjadi dalam waktu yang lama tetapi hanya dengan hitungan detik saja. Dan betapa banyak bencana itu sering terjadi di negeri ini, satu per satu bencana itu datang silih berganti dengan cepat bagaikan jatuhnya butir tasbih yang telah diputus tali untaianya.
Dalam Al-qur’an maupun hadits Rasulullah Saw. telah banyak disebutkan, bahwa semua bencana yang datang kepada manusia itu, sesungguhnya disebabkan oleh kedurhakaan dan kemaksiatan yang telah dilakukan oleh manusia itu sendiri. Karena manusia terlampau banyak melakukan dosa, meninggalkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan juga meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka Allah mendatangkan bencana kepada mereka. Secara tegas Allah berfirman dalam dalam Al-qur’an,

“ Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”(QS.Al-Ma’idah : 78-79 )
Dalam ayat ini disebutkan, bahwa Allah telah melaknat atau menimpakan adzab kepada Bani Israil karena mereka telah melampaui batas dalam bermaksiat kepada Allah dan mereka telah meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka tidak mau saling menasehati sesama mereka dan selalu hidup menuruti hawa nafsu mereka. Allah juga berfirman dalam surat yang lain

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.( QS.Al-Isro’:16)
Jarir bin Abdullah Al-Bajly ra. Meriwayatkan, bahwa Nabi SAW, bersabda,
“Tidaklah salah seorang berada di dalam suatu kaum, lalu dia melakukan berbagai kemaksiatan di tengah mereka, padahal mereka mampu merubahnya namun mereka tidak merubahnya, melainkan Allah akan menimpakan adzab kepada mereka sebelum kematian mereka.” {Diriwayatkan Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Majah}
lihatlah betapa jelas Allah mengatakan bahwa Allah akan menghancurkan suatu negri jika para penghuni atau pemimpin di negeri itu sudah suka hidup dengan kemewahan dan selalu berbuat fasik kepada Allah Ta’ala.
Jadi jelas, bahwa seluruh bencana yang menimpa manusia, kapan dan dimana saja hal itu terjadi, maka sebabnya adalah dua hal. Pertama karena manusia telah banyak melakukan kemaksiatan dan yang kedua karena manusia telah meniggalkan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar. Lantas bagaimanakah sikap kita sebagai orang yang beriman? apa yang harus dilakukan oleh manusia untuk menyelamatkan dirinya dari adzab Allah Ta’ala berupa bencana alam tersebut?
Imam Ibnu Katsier dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan secara marfu’ oleh sahabat anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, bahwasanya Allah berfirman,

وعزتي وجلالي، إني لأهم بأهل الأرض عذابا، فإذا نظرت إلى عمار بيوتي وإلى المتحابين في، وإلى المستغفرين بالأسحار، صرفت ذلك عنهم
“ Demi kemulyaan dan keagungan-Ku, sesungguhnya aku sangat ingin menimpakan adzab pada sebuah negeri, namun kemudian aku melihat orang-orang yang selalu memakmurkan masjid-masjidku, dan orang-orang yang saling mencintai karena Aku, dan orang-orang yang mohon ampun kepada-Ku di waktu sahur. Maka kemudian aku palingkan adzab itu dari mereka.“
Dalam hadits ini Allah telah menjelaskan bahwa Dia akan memalingkan bencana dari suatu kaum, apabila dalam kaum tersebut masih ada tiga kelompok manusia :
Pertama, orang-orang yang memakmurkan masjid. Orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang selalu istiqomah dalam amal dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas berbuat dan beramal untuk kemaslahatan umat dan rela mengorbankan kepentingan pribadinya. Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah sebuah amal usaha yang ingin mengajak orang berbuat baik, beriman, dan berbakti kepada Allah Ta’ala. Maka selama masih ada kelompok yang mau menegakkan amal ini, Allah akan berkenan menangguhkan adzabnya bagi manusia.
Dakwah adalah amalan yang penuh dengan fadhilah, penuh berkah dan bisa meredam kemarahan Allah Swt. Tidak ada amal yang lebih mulya dan tidak ada ucapan yang lebih bermakna kecuali amal dan ucapan untuk berdakwah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS.Fushilat :33 )
Kedua, orang-orang yang saling mencintai karena Allah Orang yang saling mencintai karena Allah adalah orang menghormati orang lain, menyayangi orang lain, dan berbuat baik untuk orang lain bukan karena kepentingan dunia. Mereka berbuat baik semata-mata karena ingin mendapat ridho Allah Swt. Mereka adalah orang yang pandai menjaga persatuan, merajut ukhuwah, dan membina hubungan baik dengan berbagai kalangan. Dan mereka adalah orang yang tidak mudah melemparkan kebencian kepada orang atau kelompok lain hanya karena persoalan-persoalan kecil yang tidak prinsip.
Orang yang saling mencintai karena Allah adalah orang yang sudah bisa menjadikan ridho Allah sebagai tujuan hidup yang paling utama dan orang yang bisa menciptakan kerukunan dan keharmonisan hidup yang sejati dalam masyarakat. Meraka-lah orang yang disifati Rasulullah sebagai orang yang sempurna imanya. Maka Allah menjadikanya sebagai salah satu sebab untuk menangguhkan bencana-Nya kepada manusia.
Ketiga, orang-orang yang selalu bertaubat dan mohon ampun kepada Allah Swt. atas doa-dosanya. Orang yang selalu bertaubat adalah orang yang mau menyesali kesalahan-kesalahannya. Mereka walaupun terpeleset melakukan dosa tetapi karena ada keimanan yang bersemayam dalam hatinya, hal itu membuat perasaan mereka gundah dan menjerit karena dosa-dosanya. Orang yang mau bertaubat kepada Allah Swt. Adalah orang yang punya kedudukan mulya di sisi Allah. Sebaliknnya orang yang tidak mau bertaubat adalah orang yang hina disisi Allah, karena ia melakukan dosa bukan karena factor kelalaian dan kelemahan imanya tetapi karena memang unsur kesengajaan dan pembangkanganya terhadap hukum Allah Swt. Dan orang yang seperti inilah orang yang tertutup hatinya untuk bertaubat kepada Allah.
Tetapi orang yang sepenuhnya menyadari keburukan amalnya, ia melakukan dosa bukan karena pembangkanganya kepada Allah Swt. maka orang tersebut punya kemungkinan yang besar untuk mau menyesali dosanya dan bertaubat kepada Allah. Dan jika masih banyak orang yang mau bertaubat mohon ampun kepada Allah, maka Allah akan berkenan menangguhkan bencananya.
Sekarang ini, perkara- perkara itulah yang tengah menjadi perkara langka. Sangat jarang kita temui sekarang ini orang yang mau mencurahkan waktu dan tenaganya untuk berdakwah mengajak orang lain taat pada agama. Dan kalaupun ada maka sangat sedikit sekali jumlahnya. Kebanyakan orang sudah sibuk dengan kepentingan pribadinya, bersenang-senang dan berhura-hura dengan harta dan keluarganya. Bahkan aktifitas dakwah oleh sebagian masyarakat dipandang kuno, tidak bermanfaat dan termasuk aktifitasnya para pengangguran. Derasnya arus materialisme, hedonisme dan liberalisme yang terus menghantam nilai-nilai agama saat ini telah semakin menambah preseden buruk bagi karakter seorang da’i. apalagi dengan adanya isu terorisme akhir-akhir ini, semua orang curiga kepada aktifis dakwah dan semua yang berhubungan dengan dakwah. Ini semakin menambah kelangkaan orang yang mau berdakwah.
Sekarang ini, kerukunan hidup dan keharmonisan juga menjadi barang yang sangat mahal harganya. Di mana-mana terjadi perselisihan, pertengkaran dan pertikaian. Sekarang ini orang sangat mudah disulut emosi dan kemarahanya hanya dengan perkara-perkara kecil. Tawuran antar pelajar dan mahasiswa, antar kampung, antar institusi, bahkan adu pukul antar wakil rakyat pun sekarang sudah bukan barang tabu lagi. Apalagi di tubuh umat Islam ini, sekarang bisa kita saksikan berapa banyak kelompok Islam, ormas Islam, partai Islam, dan gerakan-gerakan Islam yang saling berselisih, saling menyalahkan, mengkritik, membid’ahkan, bahkan mengkafirkan satu sama lain. Inilah potret umat Islam saat ini. Dan inilah kondisi ukhuwah umat saat ini.
kehidupan umat manusia yang saat ini sangat individualis, yang bebas berbuat untuk kepentingan dan kesenangan pribadinya tanpa mau memikirkan kepentingan orang lain, keselamatan orang lain, apalagi memikirkan urusan-urusan dakwah, mengajak berbuat baik ke pada orang lain, menyebabkan manusia semakin leluasa dan bebas berbuat keburukan. Sekarang ini keadaanya, orang sudah terang-terangan dan tak malu lagi berbuat dosa dan kesalahan. Hal yang sudah jelas-jelas dinilai buruk dan rendah oleh masyarakat, bisa mereka lakukan di pinggir-pinggir jalan, di tempat-tempat pasamuan ( acara resmi ) dan di tempat-tempat umum lainya dengan sikap bangga dan perasaan yang nyaman. Ini menunjukkan bahwa kebanyakan manusia telah menjadikan dosa dan kemaksiatan sebagai pilihan hidupnya. Kedudukan Allah, agama, norma, nilai itu semua rendah dalam pandangan hidupnya. Orang yang melakukan kemaksiatan dengan latar belakang seperti ini, maka kecil sekali kemungkinanya untuk bertaubat. Merekalah orang-orang yang tersesat dalam hidupnya dan puas dengan pilihan hidupnya.Itulah kondisi masyarakat sekarang ini.
Maka dari itu, jika bencana dan musibah datang bertubi-tubi dan hampir tiada henti seperti yang terjadi kemarin hingga hari ini, maka hal itu sudah sewajarnya terjadi. Kerusakan yang telah diperbuat oleh manusia sudah semakin parah, dan sementara itu, tak ada lagi alasan bagi Allah untuk menangguhkan kemarahan-Nya dan menunda lagi menimpakan adzab kepada manusia. Maka terjadilah berbagai bencana secara bertubu-tubi seperti sekarang ini.
Oleh karena itu, jika kita ingin selamat dari berbagai bencana yang ditimpakan oleh Allah seperti saat ini, maka kita harus kembali kepada Allah, yakni bertaubat kepada-Nya. Kita harus selalu merajut ukhuwah dan persatuan, bersikap bijak dan cerdas dalam menilai setiap silang pendapat dan perbedaan. Kita harus menghindar dan bersikap hati-hati terhadap setiap benih-benih perpecahan. Kita harus menyatukan langkah, merapatkan barisan untuk bersama-sama membangun kehidupan yang berakhlaq, menjunjung tinggi nilai ketuhanan dan kemulyaan peradaban. Semua itu agar hidup selalu dipenuhi keamanan, kebahagiaan dan kemulyaan. Dan agar bencana tidak ditimpakan kepada kita semua.
read more...

Tuesday, January 5, 2010

SUNGAI PENGHANYUT DOSA





Macam-Macam Dosa
Manusia hidup di dunia ini, selalu  melakukan dosa yang bisa digolongkan menjadi tiga macam. Pertama adalah dosa Rububiyah, yaitu dosa dimana seseorang punya anggapan bahwa dirinya besar, punya keagungan, kelebihan dan kehebatan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Atau bisa diartikan, dosa Rububiyah adalah dosa yang dilakukan oleh manusia karena telah merampas dan menyandang sifat-sifat yang sebenarnya hanya khusus dimiliki oleh Allah saja. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi;

“  Keagungan adalah pakaian-Ku, kesombongan adalah jubah-Ku, barang siapa menarik keduanya dari-Ku, niscayaAku lemparkan ia ke neraka.” (Hadits Riwayat Muslim)

 Termasuk dosa dalam jenis ini adalah takabur, membanggakan diri, ria’, sum’ah, ujub dan lain sebagainya.  Seluruh dosa yang berkaitan dengan kekufuran, kedengkian, dendam, ambisi, dan lain sebagainya, maka termasuk dosa dalam jenis ini.
Kemudian yang kedua adalah dosa Jasadiyah, yaitu dosa yang dilakukan oleh manusia sebab hawa nafsu dan sifat kebinatangan yang dimilikinya. Rasulullah SAW.  Bersabda;

“  Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk dari perutnya.(Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya)

Al-Ghozali mengatakan, bahwa berlebihan dalam makan, mengakibatkan banyak keburukan. Ia akan memacu anggota badan untuk melakukan kemaksiatan, dan menjadikannya berat melakukan ketaatan. Ibrahim bin Adam berkata, “Barang siapa menjaga perutnya, maka akan terjaga Dien-nya. Barang siapa mampu menguasai rasa laparnya, akan memiliki akhlaq yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan itu jauh dari orang yang lapar dan dekat dengan orang yang kenyang.”




Dosa yang disebabkan karena makanan inilah yang dimaksud dengan dosa Jasadiyah. Termasuk dosa jenis ini adalah berzina, minum khomr, mencuri, makan harta haram, riba, berjudi, liwath, dan lain sebagainya. Kalau jenis dosa yang pertama sumbernya adalah sifat buruk manusia yang bersemayam dalam hatinya maka yang kedua ini sumbernya adalah nafsu manusia yang bergejolak untuk mengejar kenikmatan-kenikmatan jasadnya, yaitu kenikmatan makan, seksual, dan kekuasaan.

Kedua jenis dosa ini termasuk dosa yang dikategorikan Kabair(Dosa-dosa besar), yaitu dosa sebagaimana yang telah didefinisikan oleh Imam Adz-Dzahabi, yakni semua larangan Allah dan Rasul-Nya, yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunah, juga atsar para salafus shalih.

Kemudian yang ketiga, adalah dosa-dosa kecil, yaitu dosa yang manusia sulit menghindarinya, melakukannya tanpa sengaja, atau memang karena ketidak hati-hatian dan kelalaiannya. Biasanya dosa ini adalah dosa yang tidak ada kaitannya dengan perampasan hak-hak adami (manusia), dan tidak ada kaitannya dengan penentangan terhadap Allah SWT. tetapi lebih kepada kedholiman yang akan merugikan diri sendiri dan dilakukan atas dasar kelemahannya bukan kekufurannya. Namun dosa-dosa kecil ini akan menjadi besar apabila terus menerus dilakukan.

Dari semua dosa yang disebutkan di atas, maka dosa yang paling besar adalah syirik, yaitu dosa yang Allah tidak akan mengampuninya kecuali manusia bertaubat kepada Allah SWT  sebelum kematiannya.

Macam-Macam Penghapusan Dosa
Semua jenis dosa diatas ada yang diampuni dan dihapus oleh Allah di dunia dan ada yang dihapus di akherat (Siksaan alam kubur dan neraka). Penghapusan ini ditegaskan oleh Allah dalam Alqur’an.





“Agar Allah akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS.Az-Zumar: 35 )

Ibnul Qoyyim Al-jauziah rahimahulloh berkata bahwa, orang yang berdosa, mempunyai tiga sungai besar untuk membersihkan dosa-dosanya di dunia. Jika belum bersih, maka ia akan dibersihkan pada hari Qiamat di sungai neraka. Tiga sungai itu adalah, pertama sungai taubatan nashuha, kedua sungai kebaikan yang melimpah ruah yang akan menghanyutkan dosa-dosanya, dan yang ketiga adalah sungai musibah dan cobaan yang tengah menimpanya. Beliau juga mengatakan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam sungai-sungai tersebut, sehingga ia datang pada hari qiyamat dalam keadaan bersih dan tak perlu lagi dibersihkan di neraka”

Termasuk sungai yang akan menghanyutkan dosa adalah zakat dan shodaqoh (tathowu’). Hal ini dijelaskan oleh Allah Ta’ala dalam firmannya;




 “  Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar  lagi Maha Mengetahui.” (QS.At-Taubah:103)
                                                                                         
Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari sahabat Mu’ad bin Jabal ra dan ia menshahihkannya. Bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda,
                                                                                                                           
“  Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan? Aku (Mu’adz) berkata: ’Baik ya Rasulullah!’ Rasul bersabda: ’Puasa adalah benteng, dan sodaqoh akan menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api”

Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Ibnu Hiban dalam Shahihnya, Rasulullah SAW Bersabda, “Puasa adalah benteng dari neraka, dan sodaqoh akan menghilangkan kesalahan sebagaimana mencairnya es di atas batu.”

Hikmah Puasa
Bulan Ramadhan adalah bulan yang dijadikan  Allah sebagai anugerah  bagi manusia, agar ia berlatih melaksanakan Amal-amal penghapus dosa tersebut. Ibadah puasa disyari’atkan, agar manusia terlatih untuk menghadapi berbagai kesulitan, musibah, serta cobaan dengan sabar dan hati yang lapang. Puasa juga akan menyadarkan manusia bahwa kemulyaan dan kebahagiaan, haruslah diraih dengan perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran. Di samping itu, Manusia harus tabah terhadap segala musibah,  karena musibah akan merontokkan sebagian dosa-dosanya. Musibah akan bisa menghancurkan batu karang keangkuhan dan ketakaburannya, dan memaksa manusia memahami kelemahan dan ketidak berdayaannya.

Dalam bulan Romadhon manusia juga diperintahkan banyak mengerjakan sholat malam, baca qur’an, I’tikaf, berdzikir, dsb agar dirinya terlatih dan terbiasa melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala, agar memahami dan merasakan bahwa ibadah adalah tujuan diciptakannya, kebutuhan hidupnya, yang darinyalah ia menemukan ketenangan dan kebahagiaanya. Ketika ibadah sudah dianggap sebagai kebutuhan hidup oleh manusia, maka ia akan mengutamakannya, menjaganya, dan tidak akan melepaskannya karena melepaskannya berarti adalah kesempitan hidup baginya. Barang siapa yang selalu istiqomah dalam ibadah dan senantiasa bertaubat, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya, dan menghapus kesalahan-kesalahannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS.At-Tahrim : 8)

Rasulullah SAW Juga bersabda, “Sholat lima waktu, jum’at satu hingga jum’at berikutnya, Romadhon satu hingga Romadhon berikutnya, menghapuskan dosa diantara keduanya, selama tidak melakukan dosa-dosa besar.” (Hadits riwayat Muslim)

Di bulan Romadhon, Allah juga memerintahkan manusia untuk banyak-banyak bershodaqoh, dan menutup puasanya dengan Zakat Fithri, agar manusia memahami bahwa pengabdian kepada Allah harus disempurnakan dengan membina kasih sayang sesama manusia, membantu fakir miskin, anak yatim, dan siapa saja yang membutuhkannya. Ini akan menghapus sebagian dosa-dosanya, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah kepadanya, serta pembuka pintu amal-amalnya.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha bahwa orang-orang menyembelih seekor domba. Lalu Nabi bertanya “Apa yang masih menyisa dari domba itu?” Aisyah menjawab, “Tidak ada yang menyisa kecuali tulang bahunya.” Beliau bersabda, “Semuanya masih menyisa kecuali tulang bahunya.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dan ia menshahihkannya)

Hadits Aisyah ini menjelaskan, bahwa rezeki yang hakiki bagi manusia adalah rezeki yang telah dishodaqohkannya. Sedangkan rezeki yang disimpan dan dinikmatinya bukanlah rezeki yang hakiki baginya. Rezeki yang dishodaqohkan, maka ia akan dibalas dan dilipat gandakan oleh Allah sebagai balasan di akherat. Sementara rezeki yang dimakan, maka akan menjadi darah yang mengalirkan hawa nafsunya, yang jika ia tidak mampu menahannya akan menjadi perbuatan dosa.
Itulah bulan Romadhon, ia adalah bulan penggemblengan bagi manusia agar menjadi seorang hamba yang bertaqwa dan kelak ia akan menghadap Allah SWT pada hari qiyamat dengan keadaan suci dari segala dosa. Allah Ta’ala berfirman,


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS.Al-Baqoroh:183)

Imam Ibnu Katsir berkata berkaitan dengan ayat ini, “Sesungguhnya di dalam puasa itu ada pensucian bagi badan(jiwa), dan penyempitan bagi langkah-langkah syetan (dalam menjerumuskan manusia)”

Hari Raya



Maka dari itu, orang yang ber-Hari Raya adalah orang yang mau memahami makna bulan puasa dan hari raya, mengamalkanya, dan memperlakukanya sesuai dengan tujuan disyari’atkanya. Sehingga bulan puasa tersebut bisa mengantarkanya ke derajat taqwa Mereka itulah yang sebenarnya ber-Hari Raya. Sementara orang yang tidak mau memahami makna dan hakekat bulan puasa dan hari raya, kemudian  menyambutnya denga hura-hura, bahkan dengan cara-cara yang mengandung kemaksiatan dan kebid’ahan seperti apa yang telah dipertontonkan sebagian besar umat Islam hari ini, jelas mereka tidaklah ber-Hari Raya yang sebenarnya.Walaupun mereka berpakaian baru, naik kendaraan baru, dan rumah berpenampilan baru, namun tidak memiliki jiwa yang baru dan amal baru yang baru. Bahkan mungkin jiwa dan amalnya lebih buruk keadaanya dari sebelumnya. Syetan telah memperdayai mereka, membelokkan pemahaman dan amal mereka, serta menghilangkan nikmat yang paling berharga bagi mereka. Mereka bergembira dan berpesta pora di bawah bayang-bayang kerugian mereka. Dan merekalah orang yang sebenarnya lebih pantas menangis daripada tertawa. (Oleh : Zul Fahmi)

Bahan Bacaan :
1.       “Madarijus Salikin”, Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziah.
2.       “Syarful Ummatil Muhammadiyah” Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani
“Mukhtashor Minhajul Qosidin” Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy

read more...

Monday, January 4, 2010

Makna Sebuah Bencana

Zul Fahmi, Agustus 2009


Awal Suatu Bencana

Kelestarian jasad manusia dan makhluq lainya, tergantung dari masih atau tidaknya persemayaman ruh dalam tubuhnya. Ketika ruh meninggalkan jasadnya, maka rusaklah jasad tersebut. Ia akan kaku, membusuk dan hancur terurai menjadi tanah sebagaimana asalnya. Namun selama ruh masih ada di dalamnya, maka jasad tersebut akan tetap sehat, lestari dan tak kurang suatu apa. Imam Abu Hamid Al-Ghozali dalam kitabnya, “Mi’rajus Saalikin” mengatakan bahwa ruh
read more...